Monday, January 22

Gw ga kan nyesel..!

Hahah.. Ketawa gw pas gw baca lagi tulisan di jurnal gw yang gw tulis waktu kelas 2 SMA (ketawa beneran sih ngga, cuma dalem hati aja). Isinya tentang where do u want to go after graduating from hi skool. Di situ jelas-jelas tertulis dengan mantab bahwa abis lulus SMA gw mau masuk ke jurusan Teknik Informatika di sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung yang terkenal dengan lambang gajah (yang lagi) duduk.

Tulisan itu gw buat karena terinspirasi oleh kakak kelas gw dari SMP sampe SMA yang kalo pulang sering bareng gw secara ngga sengaja, trus kalo lagi maen di warnet gw juga sering ketemu dia secara ngga sengaja pula (keterangan yang ngga penting). Jadi waktu itu gw liat di papan pengumuman anak-anak 81 yang lulus SPMB, dia keterima di jurusan yang gw mau, di perguruan tinggi yang gw mau pula. Gw jadi ngiri ma dia, pengen masuk situ juga. Mupeng euy..

Gw milih Teknik Informatika karena apa yah? Mungkin karena gw ga tau mau milih jurusan apa yang lain kali yah. Meskipun ga ada basic komputer, tapi secara gw ga minat sama jurusan lain (apa coba? akuntansi? kedokteran? teknik elektro? teknik sipil? teknik lingkungan? teknik industri? matematika? fisika?? sebutin semuanya, ga ada satu pun yang nyantol di otak gw), yaa akhirnya informatika deh tujuan gw. Sedang lain dengan Teknik Informatika. Menurut gw ini mungkin bakal jadi fun. Sementara soal kenapa dulu gw maunya di perguruan tinggi tersebut, yaa ga usah ditanya lah. Alesan gw mungkin hampir-hampir sama dengan sekitar 3000 orang lain di Indonesia yang menjatuhkan pilihan tentang kuliahnya pada jurusan Teknik Informatika di perguruan tinggi tersebut. Secara perguruan tinggi tersebut adalah perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia, jadi kalo mo ngambil kuliah teknik (dalam hal ini teknik informatika, jurusan yang beberapa tahun terakhir ini emang laris manis), ya di tempat terbaiknya dong. Alesan gw yang lain mungkin karena perguruan tinggi tersebut terletak di Bandung—yang ngga jauh dari Jakarta— karena gw udah memutuskan kalaupun harus kuliah di luar kota ga usah jauh-jauh. Lagipula gw pikir Bandung adalah kota yang asik dan cool (cool: 1keren, 2dingin). Bayangin kalo gw harus kuliah di Surabaya atau Semarang, udah jauh, panas pula!

Ya, singkat kata itulah cita-cita gw di masa SMA pertengahan sampai menjelang akhir. Kita skip aja kejadian yang terjadi setelah itu, yang menyebabkan gw melupakan dan mengkhianati cita-cita gw sendiri. Ya, gw udah ngeduain perguruan tinggi cita-cita gw itu dengan memilih yang lain, yang bisa dibilang rivalnya. Selingkuhan gw yang ini sama-sama di Bandung sih, cuma hampir bisa dipastikan kalo lo nyari lokasinya di peta, bakalan susah nemunya kalo lo ga termasuk orang yang cermat, teliti, dan tekun, serta rajin menabung :p

Kadang gw suka mikir sebentar, merenungi keputusan yang udah gw buat, sembari berharap, jauh dalam lubuk hati, gw ga kan menyesali hal ini. Karena yang namanya nyesel itu sumpah ga enak banget. Saat lo menyadari bahwa lo udah mengambil keputusan yang salah, lo akan ngerasa jadi orang yang bodoh banget, dan biasanya hal ini akan berlanjut dengan mengutuk-ngutuk diri sendiri dan tanpa disadari sering mengucapkan kata �fandaikan...�f — kata yang ngga berguna untuk diucapkan sering-sering.

Sumpah yah, yang bikin kesel tu kalo temen gw lagi manas-manasin gw tentang pilihan yang gw tinggalin itu. Yang tadinya ga kenapa-napa, jadi mikir-mikir buat nyesel. Yang gw inget waktu temen sekelas gw di kampus bilang gini, �hNgapain lo disini, udah enak di sono, lo kalo mo minum tinggal mangap, keluar deh aer dari keran.�h Hehehe... simpel sih kata-katanya (namanya juga guyonan), tapi kalo gw pikirin dan hayatin (apalagi mikirinnya beberapa hari menjelang si �fbulan�f dateng), suka sensi aja gituh.

Trus yah, gw rasa orang-orang di dunia pertelevisian Indonesia juga kayanya mo ikut-ikutan manas-manasin gw deh, dengan menayangkan film plus acara serial tentang 4 cowo sekawan yang berjuang mengatasi status mereka yang �fkosong�f, dimana di acara tersebut latar belakang tempat yang paling menonjol adalah kampus mantan idaman gw itu. Di situ suasananya asik banget keliatannya, membuat gw tergoda untuk membanding-bandingkannya dengan suasana tempat gw berada. Damn.

Kalo udah kaya gitu gw biasanya melakukan hal ini: sebelum tidur, di depan cermin gw mengucapkan kalimat: �hGw ga akan nyesel. Gw ga akan nyesel. Gw ga akan nyesel. Gw ga akan nyesel. Gw ga akan nyesel. Gw ga akan nyesel...�h begitu terus berulang-ulang sampe gw fall asleep. Dan keesokan paginya gw akan lupa bahwa kemaren gw pernah berpikir untuk nyesel. Hehehe,,, boongan doang ding. Ga sampe sgitu seriusnya kok (setidaknya sampai saat ini belum perlu segitu seriusnya).

Ok, gw udah gede. Udah berani ambil keputusan, harus pula berani mempertanggungjawabkan. Gw rasa sih keputusan gw udah tepat, tinggal bagaimana gw mengatasi perasaan-perasaan ga penting yang kadang mengambil alih diri gw.

Gw akan buktikan kalo gw ga akan nyesel milih perguruan tinggi gw sekarang ini, dan gw juga akan buktikan kalo dia ga akan nyesel udah milih gw jadi mahasiswinya.

Huff..

Hidup ini memang penuh dengan pilihan.

Read More......

Wednesday, January 17

problemo

"Kau tak mengerti bagaimana rasanya saat berjalan melintasi pusat perbelanjaan, melihat begitu banyak manekin mengenakan pakaian yang indah, dan saat kau mulai tertarik pada beberapa di antara pakaian-pakaian tersebut kau hanya akan menemukan bahwa tidak ada satu pun yang sesuai ukuranmu. Begitulah, pakaian-pakaian indah itu tidak pernah tercipta untukku."

"Jauhkan keripik itu dari pandangan mataku! Itu mengandung setidaknya 500 kalori."

"Mengapa kata gendut selalu diucap pertama kali saat orang-orang normal harus mendeskripsikan ciri-ciri orang yang bobot tubuhnya di atas rata-rata? Tak bisakah mereka menyebutkan ciri-ciri lain terlebih dahulu? Orang yang mereka bilang gendut toh juga punya rambut, warna kulit, tinggi badan, dan banyak ciri fisik lain yang bisa dideskripsikan. Mengapa berat badan harus memegang peranan yang paling penting dalam deskripsi fisik seseorang?"

Ya, aku memang tak tahu bagaimana rasanya kesulitan mencari baju; bagaimana aku harus menjauhkan diriku dari kudapan yang memang terlihat sangat menggoda sambil menimbang-nimbang setiap jumlah kalori yang akan masuk ke tubuhku; dan bagaimana aku harus menghadapi orang-orang di dunia ini yang menganggap memiliki berat badan yang mereka sebut normal adalah suatu hal yang penting. Aku memang tak pernah merasakannya. Tapi aku tahu, Ash telah memendam rasa pedih yang teramat sangat selama ini. Hampir setiap kali ia menceritakan tentang hal itu kelenjar air mata di wajahnya bekerja tanpa bisa ia kuasai. Aku tahu bahwa ia sedih dan muak dengan keadaannya, sering pula ia merasa tak berdaya. Namun karena memang aku tak tahu bagaimana pedihnya perasaan yang ia rasakan, aku tak dapat berkata banyak padanya. Oh Ash, temanku yang malang. Tapi aku yakin suatu saat keadaan akan berubah. Aku percaya suatu hari ia akan kehilangan sebagian bobot tubuhnya dan memiliki bentuk tubuh yang ia inginkan.

"Kau tahu, setiap keluarga besar berkumpul, mereka akan mulai lagi berbasa-basi dengan perkataan yang sebenarnya paling tidak ingin aku dengar. 'Wah, kau gemukan yah sekarang?'. Itu adalah kata-kata paling bodoh dan tidak peka sedunia yang pernah dilontarkan orang kepadaku. Ingin sekali aku membungkam mereka, tak peduli apapun kedudukan mereka dalam silsilah keturunan keluarga. Tapi sayang aku tak pernah bisa."

"Dan kau tahu apa, yang membuat kesedihanku sempurna adalah mereka selalu senang membanding-bandingkan antara aku dan kakakku, sang Ms.Perfect. Tentu saja dia punya segala hal yang tak aku punya. Kau ingat ungkapan 'Jika tidak ada yang jelek, maka tidak akan ada yang disebut cantik. Jika tidak ada yang bodoh, maka tidak akan ada yang disebut pintar'? Aku benci kata-kata itu. Mereka yang pernah menyebut kata-kata itu pasti tidak tahu bagaimana rasanya dibandingkan dengan orang lain hanya untuk mengetahui betapa sempurnanya orang itu dengan menunjukkan semua kelemahan-kelemahanmu. Orang-orang di keluarga besarku membuatku ingin membenci kakakku sendiri, tapi toh aku juga tidak bisa, karena dia selalu menyayangiku dengan tulus."

Seakan masalah berat badannya belum cukup, Ash harus menerima perlakuan yang menyakitkan hati dari orang-orang di sekelilingnya. Ya, aku tahu menjadi objek perbandingan untuk dijelek-jelekkan memanglah tidak enak. Namun lagi-lagi aku tidak tahu bagaimana rasanya karena aku tak pernah berada di posisinya. Aku malah lebih sering berada di posisi kakaknya. Tapi ku harap Ash tidak membenciku karenanya. Aku juga tak pernah ingin untuk dibanding-bandingkan dengan orang lain hanya untuk menyebut kelebihan-kelebihanku. Menurutku tak perlu menjatuhkan seseorang untuk memuji orang yang lain. Setiap orang di dunia ini unik, maka hargailah itu.

Ash hanya salah seorang dari beberapa temanku yang memiliki problem cukup berat dalam hidupnya. Seorang temanku yang lain, Beck harus kehilangan ayahnya dalam usia yang belia. Aku juga tak bisa membayangkan bagaimana menjadi dirinya, yang selain harus kehilangan anggota keluarga yang dicintai juga harus mengalami gangguan stabilitas keuangan dalam keluarga. Aku sangat menghargai sikap tegar Beck yang selalu berwajah ceria hampir setiap saat.

Lain masalah Ash dan Beck, lain lagi masalah Chad. Kawan lamaku di bangku sekolah menengah pertama itu memang tidak harus kehilangan nyawa orang yang dicintainya, melainkan nyawanya sendiri. Ia belum pernah merasakan ulang tahun yang ke-17, usia dimana kata orang-orang kau sudah berhak menentukan jalan hidupmu sendiri. Waktu itu baru berselang beberapa bulan setelah ia dinyatakan resmi menjadi murid salah satu sekolah menengah atas ternama di kotaku. Jadi masalah yang ia miliki sekarang adalah masalahnya di dunia ini sudah selesai.

Entah bagaimana kabarnya di sana. Jika aku bisa bertanya, aku ingin sekali tahu keadaannya di sana. Sayang aku tak bisa bertelepon atau berkirim surat elektronik, atau apalah untuk sekadar ingin tahu. Sedang apa dia saat ini, sementara kebanyakan teman-temannya di sini masih bergumul dengan keindahan dunia, mencoba mengeksplorasi setiap inci dari tempat mereka berpijak.

Ash, jangan kau kira aku tak punya masalah hanya karena aku tak pernah menceritakannya padamu. Aku ingat kau pernah berkata bahwa kau akan merasa lebih lega jika mendengar orang lain menceritakan padamu tentang masalah mereka yang berat, untuk mengetahui bahwa kau tidak sendiri, bahwa kau bukan satu-satunya gadis dengan masalah yang serius. Asal kau tahu, aku ingin sekali melakukannya untuk meringankan beban yang kau rasakan, dan tentunya juga meringankan bebanku sendiri. Aku ingin berbagi cerita, berbagi derita denganmu. Tapi entah mengapa tenggorokannku seperti tercekat setiap kali aku mencobanya.

Ash, aku ingin sekali kau tahu bahwa masalahmu belum seberapa dibandingkan masalahku. Ini bukannya mau menyombongkan diri atau apa, lagipula memangnya masalah bisa dijadikan objek untuk disombongkan? Kau masih beruntung dapat meringankan kesulitan yang kau alami dengan menceritakannya pada orang lain. Sedangkan aku? Berpikir untuk menceritakannya saja terkadang aku takut.

Aku mungkin selalu terlihat tenang di depanmu, seolah tanpa masalah. Tapi bukannya jarang masalah itu menyeruak pikiranku. Itu hanya karena aku selalu menekannya ke bawah sampai berada pada prioritas terendah dalam daftar hal-hal yang harus ku pikirkan. Selama ini aku hanya bisa menangis dalam diamku. Terisak tanpa suara.

Aku selalu berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjadi tangguh, meskipun kadang aku tak tahan untuk melanggarnya. Aku juga selalu berusaha sekuat tenaga agar kebahagiaanku tidak bergantung pada keadaan di sekelilingku. Seperti yang banyak dikatakan dalam buku-buku psikologi remaja, kebahagiaan adalah urusan hati, itu bergantung pada bagaimana kau menyikapi masalah yang kau hadapi. Seolah aku ingin menghipnotis diriku sendiri untuk mempercayai bahwa aku bisa menciptakan kebahagiaan di duniaku sendiri.

Sore itu aku berkunjung ke rumah Ash. Ibunya yang ramah lalu menyambutku dengan suguhan masakan-masakan beliau yang lezat. Kami duduk makan bertiga sampai akhirnya ayahnya pulang dan bergabung bersama kami. Sang ayah bercerita tentang kejadian lucu di kantornya. Sang ibu menyendok nasi ke piring sang ayah sambil sesekali menanggapi kelakar sang ayah. Ash tertawa sambil berkata-kata manja.

Cukup. Ku palingkan wajah dari adegan yang sempurna itu. Di luar kontrolku, sang kelenjar air mata bekerja sesukanya.

Read More......

journey back home vol 2

Selesai UAS kalkulus, Sabtu, 13 Jan 07, temen-temen kosan gw udah mulai sibuk dengan rencana mereka untuk melarikan diri dari pengasingan. Terpancar aura bahagia dari wajah mereka, mengingat kesempatan yang terbuka lebar di depan mata untuk sejenak menghirup udara bebas, menghilangkan penat yang hampir membunuh. What a hectic day it was! Pada ngepak-ngepak baranglah, mondar-mandir sana-sinilah, mesen taksilah, yaa repot deh pokonya. Semua anak di kosan pulang hari itu kecuali gw dan 2 orang temen lagi. Gw sengaja milih pulang besoknya aja, byar pagi-pagi.

Jadi malem itu di kosan sepi banget. Gw di kamar ajah sembari ngabisin Naruto yang ke-6. Bagian terakhir kalo ga salah nyeritain persahabatan Sakura Haruno sama Ino Yamanaka yang rusak gara-gara sama-sama suka Sasuke (huuhh,, dasar cewe... :p). Ternyata seru juga tu komik, meskipun kadang-kadang gw ga ngerti ama adegan fightnya yang ribet banget sampe suka pusing ngeliatnya (secara gw baru mulai baca komik gituh), overall kata gw ni komik bagus. Penjelasan tentang jurus-jurus ninjanya tuh sophisticated, trus karakter-karakternya keren (apalagi guru Kakashi, lutuu..), apalagi digambarkan di situ kalo tokoh utamanya tuh rada cemen, bukan si tokoh utama yang super-segala-galanya. Masashi Kishimoto rocks! It's interesting to see how Naruto struggles to get recognition from his surrounding. It's a lesson about life, isn't it?

So, keesokan harinya, jam 05.20 gw berangkat dari kosan. Udaranya masih seger euy. Trus sampe terminal Leuwipanjang sekitar jam 6 gitu. Pas gw naek ke bus, blom ada siapa-siapa sama sekali. Gw nunggu aja deh disitu sendirian. Kira-kira 10menit setelah itu, dateng seorang cowo, umur kira-kira 25an, dengan dandanan ala tipikal preman jalanan yang digambarin di sinetron-sinetron—tampang agak brewokan, pake anting di salah satu kupingnya, celana jins belel yang robek di atas lututnya (kalo gw ga salah liat di balik bagian yang robek itu ada tato deh), jaket jins yang ditempelin badge banyak bgt, kupluk, Converse belel yang robek di beberapa bagian, ma tas selempang. Outfit yang perfect buat bikin cewe yang lagi sendirian jadi agak-agak parno gitu. Tapi secara gw adalah seorang plegmatis yang selalu menganggap bahwa kejadian-kejadian buruk ngga akan menimpa gw, itu cuma ada di film atau berita kriminal—ga tau kenapa gw bisa menganut asas kaya gitu—gw siy tenang-tenang aja, ga mikir macem-macem.

Dy nyamperin gw dan nanya ongkos bus itu berapa, setelah itu ngambil tempat duduk di seberang gw. Mulailah dia dengan pertanyaan pembuka standar: kuliah apa kerja?, mo pulang?, blablabla,,, Ya gw jawabin aja deh tuh. Akhirnya malah ngobrol ngalor-ngidul. Dy nyerocos aja, gw mah palingan nimpalin sekenanya atau cengar-cengir. Lumayan sih, ada makhluk bernyawa yang bisa diajak ngobrol, secara waktu itu gw mw ngajakin seorang temen ngobrol lewat sms tapi ga dibales-bales. Gila busnya lama bener berangkatnya! Beberapa topik lumayan menarik sih, seru aja ngedenger sesuatu yang bukan dari dunia gw selama ini. Ada kali ngobrol sampe 1 jam, sebelum akhirnya cape trus mencoba tidur tapi ga bisa-bisa.

Betapa standar, sampai akhirnya tu orang nanya nama gw. Gw jawab tanpa bertanya balik. Eh, abis itu dya nyebutin namanya,,, kan gw ga nanya,,hihi...
Abis itu sempet ganti beberapa topik pembicaraan sampai akhirnya, betapa standar, dy minta nomer gw. Waduh, how am I supposed to do nih.. Trus gw minta dy nyebutin nomernya, biar gw miscall. Jadilah dia ngesave nomer tersebut yang notabene sifatnya disposable. Huahaha,,,

Trus dy sempet asking permission, "Gw boleh duduk disitu ga?" sambil nunjuk tempat yang kosong di sebelah gw. Beuh,, yang bener aje lo. "Ini buat tas gw," kata gw sambil nengok ke arah tas di samping gw. Alasan yang jelek sih, secara tas kan bisa ditaroh di atas, di tempat tas. Tapi toh emang tas gw dua-duanya ga gw taroh atas, jadi satu gw pangku, satu lagi di tempat duduk di samping gw. Thank God gw bawa tas 2...

Huh... Pengalaman yang aneh..

Perjalanan lumayan ngebetein dan lama. Pas dikit lagi mo nyampe tol Bekasi Timur gw malah ngerasa ngantuk tuh. Terpaksa bangun deh.

Waktu nyampe yang pertama kali dirasain, buset deh, Jakarta panas banget euy... Bukannya sekarang musim penghujan yah? Tapi tetep aja panas ngga ketulungan. Berarti SEPANJANG TAUN Jakarta kaya gini?? Gilaaa,,, Keringetan mulu. Bener-bener efek global heating (bukan global warming lagi) udah kerasa banget di Jakarta.

Hahah,, ga penting banget gitu yah nyeritain perjalanan di bus. Tapi gw suka aja gitu. Perjalanan pulang dari Bandung ke Jakarta setidaknya selalu mengandung sedikit rasa yang menyenangkan, ketimbang perjalanan gw dari Jakarta ke Bandung—yang biasanya menimbulkan rasa cemas berlebih dalam diri gw, karena dalam hati bertanya-tanya apa yang akan terjadi nanti di Bandung sana, lebih tepatnya lagi, di Dayeuhkolot sana.

By the way, met liburan!!

Read More......

Monday, January 1

HAPPY NEW YEAR 2007!!

HAPPY NEW YEAR 2007!!
Sebenernya ucapan "Happy New Year" bagi gw kurang tepat deh. Buat gw itu seharusnya lebih bernada sedih, bukan ceria. Mungkin lebih kaya gini: "Yah, udah taun 2007 aja nih. Bumi makin tua, gw makin tua, makin mendekati akhir". Ah, whatever deh.

Nu Year Eve taun ini gw di Bandung (Dayeuhkolot juga Bandung loh:p). Teringat taun-taun sebelumnya, byasanya gw ngumpul ma temen2 SMP gw. Sekarang ngga, gara-gara UASialan. Taun baruan juga di kosan doang. Garing. Tapi gpp d, setidaknya masih bareng2 temen2 kosan, ma second family, jadi ga terlalu menyedihkan.


Di malam pertambahan tahun Masehi kali ini, ada yang spesial juga sih. Jadi kemaren, kira-kira pas lagi bareng2 nonton Heart yang ditayangin di RCTI sambil mencerca setiap adegan yang muncul, HP gw bunyi, sms diterima. Wah, si nomor dari operator yang ga ada di Indonesia, Hutchison kalo ga salah? Pas gw buka, whew, si HP memperingatkan bahwa SMS yang akan dya bacain tuh terdiri dari 5x ukuran SMS normal.

Setelah dibaca, yaah,, kepotong,, baru keliatan 1 sms doang (serasa nonton film seri banget deh), penasaran lah sama yang empat lainnya. Mmm,, mungkin gara2 inbox gw kepenuhan kali yah. Maklum, HP jelekan sih. Terpaksa akhirnya gw menyortir dan mendelete sms2 di inbox yang uda out of date (tapi sebenernya gw masih mau nyimpen, cuz itu bnykan dari ma best riends). Tapi penasaran dengan 4 sms yang masih melayang di udara, yah gpp deh.

Setelah itu sms dari nomer yang sama berulang-ulang masuk, mungkin mau mengamandemen sms yang pertama, menambah jumlah pasal-pasalnya, tapi ga berhasil mulu, tetep aja yang gw baca itu-itu doang, 1 sms pertama.Kejadian itu berlangsung sampe 10 kali, kali. Selang waktu stgh atau satu jam berikutnya baru deh gw bisa baca yang full version dari sms itu.
Gw baca...

Xxxxxxx...........................................................
..............................................................................
..............................................................................
..............................................................................
..............................................................................
..............................................................................
..............................................................................
..............................................................................
..............................................................................
.................................................. xxx xxxx xxxx!



Wuhu.. isi smsnya bener2 sukses ngebuat gw senyum2 ga jelas ala seorang psycho. Anjrit! Tapi gw sempet mikir, palingan ni orang cuma terbawa suasana aja abis nonton kembang api, jadi mellow gituh kaya di pelem-pelem. Jadilah korbannya gw.

Gw mikir lagi, si pengirim sms ini tau ga yah reaksi si penerima sms setelah baca ini kaya gimana..
Seandainya gw nerima sms itu di tempat umum yang dipasangin kamera CCTV, mungkin gw bakal jadi pemandangan paling mencolok, aneh, dan mencurigakan di layar pengawasnya.


GW SENENG..


































sekaligus sedih..

so the situation can be described like this: i like u. u like me. that's all.


Malam tahun baru yang aneh.
Sekaligus menyebalkan, karena UAS makin deket. Argghhh...

Read More......

Sunday, December 31

pfff,,, akhirnya English class udah berakhir

sebenernya gw pengen bgt segera nge-post ini pada hari-H nya juga. Tapi banyak alasan yang membuat hal itu tidak tercapai.


Di sebuah kelas di gedung B milik STT Telkom, hari Kamis (21/12), telah terjadi suatu event yang bersejarah bagi seorang Ndie.
huff,,, alhamdulilah… lega banget rasanya setelah gw maju untuk deliver some speech in debating yang gw sendiri juga ga ngerti gw ngomong apaan, yang penting keliatan dan kedengeran kalo kita lagi ngomong. Toh orang-orang lain lebih sibuk sama dirinya sendiri. Walau dengan tergagap-gagap dan terlunta-lunta gw bisa nyelesain speech yang menyiksa itu dengan selamat. Mission accomplished!

Yeah,, it’s over now! Gw serasa mau loncat galah saking senengnya. Speech gw tadi mengakhiri tugas gw di English class buat mata kuliah Bahasa Inggris I, semester I ini. Subject yang biasanya sangat gw senangi waktu sekolah ini (ada beberapa faktor gw suka English, salah satunya sangat konyol untuk diceritakan) berubah jadi monster waktu gw kuliah. Mata kuliah ini udah nyiksa gw selama 1 semester dengan menciptakan ketakutan-ketakutan dalam diri gw. Sumpah, ga enak banget yah jadi orang parno-an…

Jadi ini semua berawal dari TOEFL yang diadakan STT Telkom di masa pra perkuliahan. Setelah TOEFL diadakan, hasil diumumkan, nama-nama dipampangkan, diberitahukanlah bahwa nama-nama yang hasil TOEFLnya begini begitu berhak masuk kelas yang sedikit beda dari kelas regular. Saat itu nama yang dipampang untuk berhak masuk kelas tersebut lumayan banyak, 100 orang kurang lebih. Dan terseliplah nama Indri Yunita dengan NIM 113061071 dalam daftar tersebut, meskipun dengan nilai pas-pasan.

Setelah itu diadakan briefing tentang kelas “spesial” tersebut. Dijelaskan panjang lebar oleh seorang dosen tentang advantages kalo lo masuk kelas itu. Nilai dijamin minimal B, ga perlu ikut UTS n UAS, dateng juga seminggu sekali (kalo regular 2 kali seminggu), dan sederet alasan persuasif lainnya yang bikin semua yang hadir tepuk tangan. “Hmmm,,, what a nice thing”, I thought.

Jadi apa yang diinginkan dari diadakannya kelas tersebut adalah untuk train students about critical thinking trus aplikasinya adalah debating. Nah,,, di sini gw mulai mikir sedikit. “Hmmm,,, kaya gimana yah?”

Yang menarik, para nama-nama itu ngga punya pilihan selain masuk ke kelas tersebut. Mereka dilarang keras masuk ke kelas regular. Kalopun kelas regular ngga dilarang, ya pasti pada milih kelas itu lah. Orang banyak banget “kelebihan”nya.

As time goes by, kelas itu mulai diadakan deh. Waktu itu untuk sementara kita harus dateng 2 kali seminggu demi mengejar ketinggalan materi katanya. Kelas itu diadain MALEM, jam 18.30-21.00. Huh,,, cape dey. Temen2 gw di kosan mah udah pada leha-leha jam segitu. Setiap gw mau brangkat English gw pasti rada ngga rela deh, secara temen2 gw dgn enaknya nyantai-nyantai kaya di pantai. Nah gw… Trus pulang ke kosan juga udah malem, sendirian, nelangsa deh.

Lebih lanjut lagi, ternyata semua kalimat persuasif yang diumbar dulu merupakan suatu bagian dari konspirasi terselubung yang licik. Gw mulai merasakan bahwa TOEFL itu hanya jebakan, dan kami semua terperosok ke dalamnya. Tidak ada jalan untuk kembali. Kengerian2 mulai tampak di mata gw.

Hehe… Halah, itu sih kata gw doang, orang yang ga bisa ngomong, jadi ga seneng di sana. Bagi mereka2 yang jago sih seneng banget kali di kelas itu.

Ke intinya aja deh. What I don’t like from that class is I felt suppressed, intimidated, uncomfortable, etc. It forced me to do something I actually don’t like: speaking. It doesn’t matter for me to speak, express my thought to public as long as I feel the public is warm to me. For example, at my former class Threntigo. I felt free to speak my mind to them. But with that class, I didn’t feel so.

Gw sadar banget kalo kemampuan verbal gw rendah. Dan maka dari itu harus dilatih, dan salah satu caranya bisa lewat kelas itu. Tapi gw rasa itu bukan cara yang tepat, karena gw ngerasa nggak enak buat belajar di sana, ga nyaman, merasa terancam, apalagi ngeliat mereka2 yang ngomongnya lancar bgt kaya aer, malah bikin down aja. Tambah aja deh gw terpuruk.

Why is it so hard for me to speak?? Sometimes mentioning just a word becomes a real struggle for me. I often hate myself for that. But it’s not a way out at all to complaining about it (somebody told me this thing). I knew it, but I have to blame someone for this problem, and the most possible one is I myself.

Moreover, itu adalah kelas debat. Wiss,, bukan gw banget tuh. Kepribadian gw yang lemot dan banyakan nerima-nerima aja jelas-jelas bertentangan dengan asas utama debating: ngotot sampai titik darah penghabisan. I don’t like debating where people bring each other down. Facts and statistics are abused to get what they want. It’s such a wasting time activity, because most of the problems remain unsolved in the end, because they’re debatable problems, and will be debated over and over again. So what’s the point?

Gw pengen, pengeen banget improve my verbal communication in English. Tapi dengan jalan yang menyenangkan, bukan menyiksa.

Read More......

Tuesday, December 26

beware: UAS telah mengintai!

Rencananya mau balik lagi ke Dayeuhkolot tanggal 2, dan itu bertepatan dengan UAS hari pertama, Pancasila. Ngga sudi gw balik tanggal 1 Januari, abis bermalam tahun baruan langsung disuru balik ke pengasingan… Ujiannya siang seh, jam 13.30. So, gw harus brangkat jam brapa dari rumah? Kan nggak enak juga kalo mepet-mepet banget pulang dari Jkt langsung menuju sebuah ruang ujian di STT Telkom tercinta, dengan napas memburu, keringat berjatuhan, panic (at the campus:p) mungkin gw harus balik jam 5 dari rumah yah…

Kepulangan gw ini menyisakan sedikit (note the using of underline) rasa bersalah karena harus ninggalin 3 hari kuliah, 5 mata kuliah, termasuk di dalamnya 2 kalkulus, 2 fisika, 1 agama. Tapi sabodo teuing.. All this time, gw masuk juga ngga pernah ngedengerin (salah siapa? hehe..) jadi gw masuk juga ngga guna, dan itu berlaku banget buat pelajaran fisika. I can’t stand listening to physics. Kuping gw bisa budek ngedengerin rumus-rumus yang meluncur dari mulut sang dosen dengan kecepatan kira-kira 17m/s. Jadi selama ini gw dateng cuma secara fisik, pikiran gw… ngga sudi gw kerahkan buat menghayati kuliah Fisika. I’m sorry Pa Mamat, I never meant to hurt you..

UAS tinggal seminggu lagi niy. Wah, ini akan jadi pengalaman UAS pertama dalam hidup gw (kalo di sekolah bukan UAS). Sebenernya biasa aja, kaya ngga pernah ujian aja sebelomnya. Yang bikin beda dengan ujian-ujian yang pernah gw alami di masa lalu:

pertama-tama,
ini Ujian Akhir Semester di bangku kuliah. Dan gw kuliah baru pertama kali ini. Jadi semuanya keliatan spesial, serba baru. Yah, istilahnya masih norak gitu deh.

kedua-dua,
UAS di Perguruan Tinggi kan soalnya esai, jadi kaga bisa pake cap cip cup kembang kuncup atau ngitungin kancing (siapa sih yang ngajarin metode ngitung kancing buat ngerjain soal Pilihan Ganda?). Gw kan anak Indonesia yang selama 11 taun (ngga ada yang keberatan kan?) sekolah udah biasa dimanja dengan kalimat instruksi : ”Pilihlah jawaban yang Anda anggap benar di bawah ini�� Jadi sengga bisa- engga bisanya kan tetep diisi semua, palingan berdasarkan intuisi. Nah di kuliahan sayangnya kaga kaya gitu, instruksinya lebih mirip kaya gini : ”Pilihlah mana yang Anda suka, tulis jawaban yang benar atau jika tidak tahu apa yang mau ditulis, tidur aja deh.��

ketiga-tiga,
gw ngga pernah ngadepin ujian se-nggak siap kaya sekarang. FYI, selama ini di sekolah semales-malesnya gw, materi pelajaran masih nyantol di otak sebelum gw ujian. Jadi mendekati ujian belajar juga ngga perlu terlalu keras. Sementara pas kuliah ini gw cuma ngedengerin materi kira-kira 20% lah. Selebihnya ngobrol, nulis-nulis ngga penting, baca novel, atau bengong. Gw masih belom begitu sadar akan pentingnya belajar, secara materi kuliah juga masih yang membosankan: Pancasila, Fisika, Pengantar Ilmu dan Teknologi (ini pelajaran menarik tapi ngebosenin), yah intinya bosen deh... masih belom terlihat bedanya sama anak SMA.. (blagu banget yang udah kuliah). Yah, dikarenakan pemahaman akan materi yang masih minim, menjelang ujian harus belajar secara ekstrem.. dengan kopi sebagai teman, bantal dan kasur sebagai musuh, mata yang dipaksa bekerja melewati kapasitasnya.. Tapi, what really makes it different tentang blajar menjelang ujian di kuliahan adalah gw ngga belajar sendiri. Jadi malem-malem blajar-blajar bareng-bareng anak-anak kos-kosan. Rasanya seru aja, berbagi penderitaan. Sumpah, beda sama belajar sendirian di rumah.

O iyah, gw masih punya kewajiban lain selain belajar pra ujian, yaitu ngerjain tugas bikin soal Pancasila 200 soal. Oh please, sampai gw kuliah masih aja dihantui hal-hal kaya gini. 200 soal tuh kalo dikerjain nonstop bakal bikin tangan gw kesemutan dan kram, bakal ngabisin tinta pulpen kira-kira 5ml, trus kalo tinta itu dipake buat ngegambar garis lurus yang ngga putus-putus, bakal bikin garis sepanjang Anyer-Panarukan kali.

Lumayan lah, physical and mental challenge nih.

Read More......

tulis tulis tulis

Kenapa menulis (dalam hal ini ngga secara literal, menulis disini dimaksudkan mengetik) bagi gw merupakan pekerjaan yang membosankan? Sering gw mau nulis suatu tema, udah kepikiran di otak, udah diketik, dan di tengah jalan (bukan di tengah jalan literally :p) jadi bete dan males buat ngelanjutin. Padahal gw PENGEN BANGET punya kebiasaan dan kebisaan menulis. Karena verbal gw juga jelek (pake banget ngga yah?), kalo nulis juga ngga bisa, trus bisanya apa dooongg…

Jelas sih, di sini dibutuhkan pengetahuan yang luas, skill yang memadai, daya imajinasi yang bagus. I think that’s what it takes to be a good writer.
Tapi semua juga ada permulaannya, latihannya, prosesnya.. Kalo ga mulai dari awal sekarang, kapanlagi.com?

Selama ini gw selalu make excuses tentang kenapa gw ngga mulai-mulai membudayakan menulis.


bersumbang...

Read More......