Pada suatu sore di musim liburan akhir semester, seorang ayah melakukan panggilan kepada anaknya melalui telepon genggam untuk menanyakan apakah ia sudah sampai di tempat tujuannya. Pukul tujuh, si anak sampai di tempat yang dimaksud dan gusar mendapati ayahnya ternyata belum tiba untuk menjemput. Ia mondar-mandir sembari pasang tampang cemberut karena risih harus menunggu di tempat yang disesaki oleh wajah-wajah mencurigakan.
Sekitar lima belas menit berselang, akhirnya sang ayah datang. Si anak menghampiri dan mencium tangan, tetap dengan cemberut di wajah. Namun sebaliknya, wajah sang ayah nampak antusias menyambut anaknya. Si anak agak heran sebab jarang-jarang sang ayah menampakkan sikap yang terlalu manis padanya. Setelah itu mereka segera melaju meninggalkan tempat tersebut.
Di perjalanan, percakapan bergulir. Topik yang diangkat tidak lain tentang sesuatu yang paling umum dibicarakan orang tua dan anaknya setiap akhir semester; sehabis nilai-nilai akademik habis dibagikan.
Si anak hampir kebingungan mencari cara yang tepat untuk membeberkan alasan mengapa hampir semua nilainya turun semester ini. Ia memutar otak, mengkambinghitamkan segala hal yang bisa dikambinghitamkan. Sedikit poles di sini, tambal di sana, dan voila, jadilah alasan yang bisa membuat sang ayah mengangguk-angguk maklum. Si anak mengambil napas lega, meskipun tak bisa dipungkiri rasa bersalah tengah menggedor-gedor hatinya.
Bagaimana tidak, jika yang dikerjakannya sepanjang hari tidak pernah jelas.
Bagaimana tidak, jika yang ada di pikirannya hanya rencana tentang bagaimana di akhir pekan ia dan teman-temannya ber-have-fun-go-mad ria.
Saat French manicure dan model pakaian teranyar menjadi main issue dalam obrolan sehari-hari.
Saat majalah fesyen menggantikan posisi diktat kuliah.
Ia begitu sayang pada otaknya; tak pernah dibiarkannya sang otak bekerja terlalu berat
Ia jarang pergi kuliah, kalaupun kuliah bisanya cuma NYAMPAH!
“Sudah, akui saja. Bilang saja, ‘Yah, aku memang jarang kuliah. Kalaupun kuliah itu juga cuma buat syarat aja. Di kelas cuma bengang-bengong ga keruan. Terus terang, kerjaanku memang mainly cuma ngobrol-ngobrol ngga jelas atau malas-malasan seharian . Yaaa, ngga heran kan makanya nilaiku turun semua? O iya, uang bulanan dari Ayah bisa ditambah lagi ngga? Kurang tuh. Mana cukup segitu buat biaya ngegaul? Ngga mau tau, pokonya aku harus kelihatan oke di depan temen-temenku.’ Come on admit it, you little hypocrite!” Begitu kata sebuah suara di pikirannya yang berteriak-teriak mengejek. Ia menggeleng pelan, berusaha menepis suara jujur yang menyebalkan itu.
Si anak terdiam. Terbesit sesal dalam diamnya. Syukur ia masih diberi sesal. Entah bagaimana dia akan memaknai rasa sesal itu. (i.y)
Kisah di atas hanyalah karangan belaka. Jika ada pihak yang merasa tersindir karenanya,, ya baguslah..
Thursday, August 2
Jangan Nyampah Sembarangan!
Scribbled by
Indri 'Ndie' Yunita
at
9:30:00 PM
0
comments
Sunday, December 31
pfff,,, akhirnya English class udah berakhir
sebenernya gw pengen bgt segera nge-post ini pada hari-H nya juga. Tapi banyak alasan yang membuat hal itu tidak tercapai.
Di sebuah kelas di gedung B milik STT Telkom, hari Kamis (21/12), telah terjadi suatu event yang bersejarah bagi seorang Ndie.
huff,,, alhamdulilah… lega banget rasanya setelah gw maju untuk deliver some speech in debating yang gw sendiri juga ga ngerti gw ngomong apaan, yang penting keliatan dan kedengeran kalo kita lagi ngomong. Toh orang-orang lain lebih sibuk sama dirinya sendiri. Walau dengan tergagap-gagap dan terlunta-lunta gw bisa nyelesain speech yang menyiksa itu dengan selamat. Mission accomplished!
Yeah,, it’s over now! Gw serasa mau loncat galah saking senengnya. Speech gw tadi mengakhiri tugas gw di English class buat mata kuliah Bahasa Inggris I, semester I ini. Subject yang biasanya sangat gw senangi waktu sekolah ini (ada beberapa faktor gw suka English, salah satunya sangat konyol untuk diceritakan) berubah jadi monster waktu gw kuliah. Mata kuliah ini udah nyiksa gw selama 1 semester dengan menciptakan ketakutan-ketakutan dalam diri gw. Sumpah, ga enak banget yah jadi orang parno-an…
Jadi ini semua berawal dari TOEFL yang diadakan STT Telkom di masa pra perkuliahan. Setelah TOEFL diadakan, hasil diumumkan, nama-nama dipampangkan, diberitahukanlah bahwa nama-nama yang hasil TOEFLnya begini begitu berhak masuk kelas yang sedikit beda dari kelas regular. Saat itu nama yang dipampang untuk berhak masuk kelas tersebut lumayan banyak, 100 orang kurang lebih. Dan terseliplah nama Indri Yunita dengan NIM 113061071 dalam daftar tersebut, meskipun dengan nilai pas-pasan.
Setelah itu diadakan briefing tentang kelas “spesial” tersebut. Dijelaskan panjang lebar oleh seorang dosen tentang advantages kalo lo masuk kelas itu. Nilai dijamin minimal B, ga perlu ikut UTS n UAS, dateng juga seminggu sekali (kalo regular 2 kali seminggu), dan sederet alasan persuasif lainnya yang bikin semua yang hadir tepuk tangan. “Hmmm,,, what a nice thing”, I thought.
Jadi apa yang diinginkan dari diadakannya kelas tersebut adalah untuk train students about critical thinking trus aplikasinya adalah debating. Nah,,, di sini gw mulai mikir sedikit. “Hmmm,,, kaya gimana yah?”
Yang menarik, para nama-nama itu ngga punya pilihan selain masuk ke kelas tersebut. Mereka dilarang keras masuk ke kelas regular. Kalopun kelas regular ngga dilarang, ya pasti pada milih kelas itu lah. Orang banyak banget “kelebihan”nya.
As time goes by, kelas itu mulai diadakan deh. Waktu itu untuk sementara kita harus dateng 2 kali seminggu demi mengejar ketinggalan materi katanya. Kelas itu diadain MALEM, jam 18.30-21.00. Huh,,, cape dey. Temen2 gw di kosan mah udah pada leha-leha jam segitu. Setiap gw mau brangkat English gw pasti rada ngga rela deh, secara temen2 gw dgn enaknya nyantai-nyantai kaya di pantai. Nah gw… Trus pulang ke kosan juga udah malem, sendirian, nelangsa deh.
Lebih lanjut lagi, ternyata semua kalimat persuasif yang diumbar dulu merupakan suatu bagian dari konspirasi terselubung yang licik. Gw mulai merasakan bahwa TOEFL itu hanya jebakan, dan kami semua terperosok ke dalamnya. Tidak ada jalan untuk kembali. Kengerian2 mulai tampak di mata gw.
Hehe… Halah, itu sih kata gw doang, orang yang ga bisa ngomong, jadi ga seneng di sana. Bagi mereka2 yang jago sih seneng banget kali di kelas itu.
Ke intinya aja deh. What I don’t like from that class is I felt suppressed, intimidated, uncomfortable, etc. It forced me to do something I actually don’t like: speaking. It doesn’t matter for me to speak, express my thought to public as long as I feel the public is warm to me. For example, at my former class Threntigo. I felt free to speak my mind to them. But with that class, I didn’t feel so.
Gw sadar banget kalo kemampuan verbal gw rendah. Dan maka dari itu harus dilatih, dan salah satu caranya bisa lewat kelas itu. Tapi gw rasa itu bukan cara yang tepat, karena gw ngerasa nggak enak buat belajar di sana, ga nyaman, merasa terancam, apalagi ngeliat mereka2 yang ngomongnya lancar bgt kaya aer, malah bikin down aja. Tambah aja deh gw terpuruk.
Why is it so hard for me to speak?? Sometimes mentioning just a word becomes a real struggle for me. I often hate myself for that. But it’s not a way out at all to complaining about it (somebody told me this thing). I knew it, but I have to blame someone for this problem, and the most possible one is I myself.
Moreover, itu adalah kelas debat. Wiss,, bukan gw banget tuh. Kepribadian gw yang lemot dan banyakan nerima-nerima aja jelas-jelas bertentangan dengan asas utama debating: ngotot sampai titik darah penghabisan. I don’t like debating where people bring each other down. Facts and statistics are abused to get what they want. It’s such a wasting time activity, because most of the problems remain unsolved in the end, because they’re debatable problems, and will be debated over and over again. So what’s the point?
Gw pengen, pengeen banget improve my verbal communication in English. Tapi dengan jalan yang menyenangkan, bukan menyiksa.
Scribbled by
Indri 'Ndie' Yunita
at
9:06:00 PM
3
comments
Labels: kuliah
Tuesday, December 26
beware: UAS telah mengintai!
Rencananya mau balik lagi ke Dayeuhkolot tanggal 2, dan itu bertepatan dengan UAS hari pertama, Pancasila. Ngga sudi gw balik tanggal 1 Januari, abis bermalam tahun baruan langsung disuru balik ke pengasingan… Ujiannya siang seh, jam 13.30. So, gw harus brangkat jam brapa dari rumah? Kan nggak enak juga kalo mepet-mepet banget pulang dari Jkt langsung menuju sebuah ruang ujian di STT Telkom tercinta, dengan napas memburu, keringat berjatuhan, panic (at the campus:p) mungkin gw harus balik jam 5 dari rumah yah…
Kepulangan gw ini menyisakan sedikit (note the using of underline) rasa bersalah karena harus ninggalin 3 hari kuliah, 5 mata kuliah, termasuk di dalamnya 2 kalkulus, 2 fisika, 1 agama. Tapi sabodo teuing.. All this time, gw masuk juga ngga pernah ngedengerin (salah siapa? hehe..) jadi gw masuk juga ngga guna, dan itu berlaku banget buat pelajaran fisika. I can’t stand listening to physics. Kuping gw bisa budek ngedengerin rumus-rumus yang meluncur dari mulut sang dosen dengan kecepatan kira-kira 17m/s. Jadi selama ini gw dateng cuma secara fisik, pikiran gw… ngga sudi gw kerahkan buat menghayati kuliah Fisika. I’m sorry Pa Mamat, I never meant to hurt you..
UAS tinggal seminggu lagi niy. Wah, ini akan jadi pengalaman UAS pertama dalam hidup gw (kalo di sekolah bukan UAS). Sebenernya biasa aja, kaya ngga pernah ujian aja sebelomnya. Yang bikin beda dengan ujian-ujian yang pernah gw alami di masa lalu:
pertama-tama,
ini Ujian Akhir Semester di bangku kuliah. Dan gw kuliah baru pertama kali ini. Jadi semuanya keliatan spesial, serba baru. Yah, istilahnya masih norak gitu deh.
kedua-dua,
UAS di Perguruan Tinggi kan soalnya esai, jadi kaga bisa pake cap cip cup kembang kuncup atau ngitungin kancing (siapa sih yang ngajarin metode ngitung kancing buat ngerjain soal Pilihan Ganda?). Gw kan anak Indonesia yang selama 11 taun (ngga ada yang keberatan kan?) sekolah udah biasa dimanja dengan kalimat instruksi : ”Pilihlah jawaban yang Anda anggap benar di bawah ini�� Jadi sengga bisa- engga bisanya kan tetep diisi semua, palingan berdasarkan intuisi. Nah di kuliahan sayangnya kaga kaya gitu, instruksinya lebih mirip kaya gini : ”Pilihlah mana yang Anda suka, tulis jawaban yang benar atau jika tidak tahu apa yang mau ditulis, tidur aja deh.��
ketiga-tiga,
gw ngga pernah ngadepin ujian se-nggak siap kaya sekarang. FYI, selama ini di sekolah semales-malesnya gw, materi pelajaran masih nyantol di otak sebelum gw ujian. Jadi mendekati ujian belajar juga ngga perlu terlalu keras. Sementara pas kuliah ini gw cuma ngedengerin materi kira-kira 20% lah. Selebihnya ngobrol, nulis-nulis ngga penting, baca novel, atau bengong. Gw masih belom begitu sadar akan pentingnya belajar, secara materi kuliah juga masih yang membosankan: Pancasila, Fisika, Pengantar Ilmu dan Teknologi (ini pelajaran menarik tapi ngebosenin), yah intinya bosen deh... masih belom terlihat bedanya sama anak SMA.. (blagu banget yang udah kuliah). Yah, dikarenakan pemahaman akan materi yang masih minim, menjelang ujian harus belajar secara ekstrem.. dengan kopi sebagai teman, bantal dan kasur sebagai musuh, mata yang dipaksa bekerja melewati kapasitasnya.. Tapi, what really makes it different tentang blajar menjelang ujian di kuliahan adalah gw ngga belajar sendiri. Jadi malem-malem blajar-blajar bareng-bareng anak-anak kos-kosan. Rasanya seru aja, berbagi penderitaan. Sumpah, beda sama belajar sendirian di rumah.
O iyah, gw masih punya kewajiban lain selain belajar pra ujian, yaitu ngerjain tugas bikin soal Pancasila 200 soal. Oh please, sampai gw kuliah masih aja dihantui hal-hal kaya gini. 200 soal tuh kalo dikerjain nonstop bakal bikin tangan gw kesemutan dan kram, bakal ngabisin tinta pulpen kira-kira 5ml, trus kalo tinta itu dipake buat ngegambar garis lurus yang ngga putus-putus, bakal bikin garis sepanjang Anyer-Panarukan kali.
Lumayan lah, physical and mental challenge nih.
Scribbled by
Indri 'Ndie' Yunita
at
8:59:00 AM
2
comments
Labels: kuliah
